Mau Jadi Imam, syaratnya APA YA?

Shalat berjamaah adalah lebih baik dari shalat sendirian untuk shalat wajib karena pahalanya lebih banyak. Ketika akan shalat berjamaah tentu diperlukan seorang imam yang akan memimpin shalat tersebut. Sering terjadi ketika akan shalat di suatu masjid/musholla saat akan dimulai imam yang telah ditetapkan di masjid/musholla tersebut tidak datang., lalu siapa yang akan jadi imam ?

Kadang juga saling tunjuk sesama jamaah untuk jadi imam, sedangkan sama-sama berat,sama-sama merasa belum mampu/siap  belum berani menjadi imam, karena berat tanggungannya.

Atau di suatu masjid/musholla imam yang ada sudah uzur/tua karena umur, sudah tidak fasih lagi,  menurut jamaah yang masih muda-muda menginginkan pergantian terhadap imam karena berdasarkan hasil dia memperoleh ilmu imam tersebut sudah tidak pas lagi jadi imam karena beberapa syarat tak terpenuhi. Ya tidak ada keberanian usul. Dan sang imam juga merasa dirinya masih mampu.

Budaya ketimuran sudah mendarah daging di masyarakat sehingga (Jawa : ewuh pekewuh) kritik dan saran hanya terhenti diteggorokan saja, tanpa bisa keluar. Adapun uneg-uneg hanya disampaikan ketika beberapa  orang kumpul untuk diskusi. Maklum, sejak masjid/musholla ada ya imam tersebut yang memimpin, orang belum ada yang ngerti alif, ba’ ta’ imam tersebut yang ngajari ngaji. Sehingga permasahan imam makin berat dan PR menumpuk bagi pengurus masjid /musholla.  Generasi penerus terputus beberapa generasi karena tidak ada kaderisasi, kebuntuan keperluan imam pengganti sangatlah sulit tergantikan.

Menjaga Persatuan umat adalah utama/wajib. Jangan sampai terjadi perpecahan jamaah karena faktor sudahlah makmum ikut saja imam, imamlah yang akan bertanggungjawab terhadap makmumnya. Akhirnya berlanjut hingga kini. Itulah alasan klasik.

Berikut adalah ikhtisar syarat jadi imam, barangkali bisa dipelajari untuk menambah wawasan pribadi. Adapun kelengkapan dan baku berdasarkan dalil yang syar’i silahkan dicari rujukan yang sesuai.

IKHTISAR Syarat Jadi Imam

A. Syarat Imam

1. Muslim

2. Berakal (Sehingga orang yang mabuk, gila, ayan dan sejenisnya, tidak sah untuk menjadi imam, karena shalatnya sendiri pun juga tidak sah)

3. Baligh . Beda antara mumayyiz dengan baligh adalah bahwa baligh itu sudah mimpi dan keluar mani. Sedangkan mumayyiz secara biologis memang belum keluar mani, namun secara akal dan kesadaran sudah paham dan mengerti, dia bisa membedakan mana baik dan mana buruk.

4. Laki-laki Menjadi Imam Buat Perempuan

5. Mampu Membaca Al-Quran(setidak-tidaknya bacaan surat Al-Fatihah yang menjadi rukun dalam shalat pada tiap rakaatnya. Hal ini mengingat bahwa para ulama banyak mengatakan bahwa bacaan Al-Fatihah makmum ditanggung oleh imam. Maka kalau bacaan imamnya bermasalah, tentu saja shalat berjamaah itu menjadi terkena imbasnya.)

6. Tidak Berpenyakit. Yang dimaksud tidak berpenyakit disini adalah orang imam tidak boleh berpenyakit yang sekiranya membatalkan shalatnya, seperti orang yang sakit kencing, dimana dia tidak bisa menahan kencingnya dan keluar dengan sendirinya. Orang Arab mengistilahkan dengan penyakit salasul-baul.

Begitu juga orang yang selalu kentut dan tidak bisa menahannya, tidak boleh menjadi imam.

Termasuk juga orang yang luka dan darahnya mengalir terus tidak berhenti sehingga membasahi tubuh, pakaian atau tempat shalat.

Orang-orang seperti ini meski selalu basah dengan najis, tidak gugur kewajibannya untuk menjalankan shalat fardhu. Namun mengingat dia punya masalah dengan najis dan shalatnya bernilai darurat, maka tidak layak bila dia menjadi imam.

7. Mampu Mengerjakan Semua Rukun Shalat(Dan kedudukan seseorang yang shalat sebagai imam mengharuskannya mampu mengerjakan semua rukun shalat secara lengkap tanpa kurang satu pun).

8. Tidak Kehilangan Syarat Sah Shalat

Diantara syarat sah shalat adalah : 1. Tahu Waktu Shalat Sudah Masuk  2. Suci dari Hadats Besar dan Kecil  3. Suci Badan, Pakaian dan Tempat  4. Menutup Aurat  5. Menghadap ke Kiblat

9. Niat

Umumnya para ulama seperti Asy-syafi’iyah dan Al-Malikiyah tidak mensyaratkan niat untuk menjadi imam sejak awal shalat. Sehingga seorang yang shalat sejak awal niatnya shalat munfarid (sendirian), lalu ada orang lain mengikutinya dari belakang, hukumnya sah dan boleh.

Sebaliknya, dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah, hukumnya tidak boleh, kecuali imam dan makmum sama-sama shalat sunnah. Sedangkan bila niatnya shalat wajib, tidak sah hukumnya untuk bermakmum kepada seseorang yang sedang shalat sendiri dan tidak berniat menjadi imam.

B. Yang Lebih Berhak Menjadi Imam

1. Lebih Paham Fiqih(Jumhur ulama, yaitu mazhab Al-Hanafiyah,  Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah lebih mendahulukan orang yang afqah, yaitu lebih mengerti ilmu fiqih, khususnya fiqih shalat untuk menjadi imam shalat berjamaah, dari pada orang lebih yang fasih dalam bacaan ayat Al-Quran.)

2. Lebih Fasih

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang lebih berhak untuk menjadi imam dalam shalat jamaah adalah orang yang lebih fasih bacaannya. Mazhab ini menomor-satukan masalah kefasihan bacaan Al-Quran ketimbang keluasan dan kedalaman ilmu fiqih.

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :

Bila ada tiga orang, maka salah satu dari mereka menjadi imam. Dan orang yang lebih berhak menjadi imam adalah yang lebih aqra’ di antara mereka. (HR. Muslim dan Ahmad)

Selain urusan kefasihan atau kefaqihan, ada hadits lain yang membicarakan tentang bilamana para jamaah shalat punya kemampuan yang setaraf, lalu pertimbangan apalagi yang harus dijadikan dasar.

Di antaranya masalah siapa yang lebih paham dengan sunnah nabawiyah, juga yang lebih dahulu berhijrah, yang lebih tua usianya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah orang yang lebih aqra’ pada kitabullah. Bila peringkat mereka sama dalam masalah qiraat, maka yang lebih paham dengan sunnah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih dahulu berangkat hijrah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih banyak usianya. Namun janganlah seorang menjadi imam buat orang lain di wilayah kekuasaan orang lain itu, jangan duduk di rumahnya kecuali dengan izinnya. (HR. Muslim)

3. Yang Punya Wilayah (lebih diutamakan orang yang mukim, adapun ada jamaah dari luar lebih baik, jika diizinkan, diperbolehkan).

C. Tugas dan Wewenang Imam

1. Memberi Izin Adzan dan Iqamah

2. Memeriksa Kerapatan dan Kelurusan Barisan

3. Memberi Informasi Yang Diperlukan (Dianjurkan bagi imam sebelum memulai shalat jamaah, untuk menjelaskan apa-apa yang akan dilakukan di dalam shalat nanti, apabila ada hal-hal yang di luar kebiasaan.

Misalnya dalam shalat qashar, yaitu shalat Dzhuhur, Ashar atau Isya’, yang seharusnya empat rakaat menjadi hanya dua rakaat. Sebelum memulai sebaiknya imam memberi informasi terlebih dahulu kepada makmum agar mereka tidak terkecoh.)

4. Meringankan Shalat(syariat Islam lebih mengutamakan shalat yang singkat dan tidak berlama-lama, khususnya dalam shalat berjamaah lima waktu).

5. Menunggu Masbuk

6. Istikhlaf (Istikhlaf adalah tindakan imam yang mengalami batal dalam shalatnya, lalu meminta kepada salah satu makmumnya, biasanya yang berdiri tepat di belakangnya, untuk maju menggantikan posisinya sebagai imam. Semua dilakukan ketika shalat jamaah sedang berlangsung) Abu Bakar Mundur saat jdi Imam karena Rasulullah datang, Umar dan Usman ketika jadi imam shalat subuh ditusuk pisau musuh, imam disuruh mengganti yang dibelakangnya.


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: